
Jakarta — Pengembangan peternakan tidak lagi cukup hanya bertumpu pada peningkatan produksi. Di tengah kebutuhan pangan yang terus berkembang, riset dituntut mampu melahirkan inovasi yang dapat diterapkan langsung untuk memperkuat kawasan produksi, sumber daya genetik, teknologi, hingga rantai nilai peternakan dari hulu sampai hilir.
Semangat tersebut mengemuka dalam pertemuan dan pembahasan usulan Riset Inovatif Produktif Invitasi – Program Riset Kebijakan Pembangunan Merah Putih (RISPRO Invitasi PRIMA) Tahun 2026 antara Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Pemerintah Kabupaten Brebes.
Pertemuan yang berlangsung pada Rabu (30/9/2026) di Kantor Ditjen PKH, Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan, tersebut membahas usulan riset bertajuk “Pembangunan Kawasan Pangan Produktif Berkelanjutan melalui Penguatan Rantai Nilai Protein Hewani Berbasis Ekonomi Sirkular dan Teknologi Inovasi”. Dalam usulan itu, Kabupaten Brebes ditetapkan sebagai salah satu lokus kegiatan sekaligus daerah yang menyatakan kesiapan untuk mendukung kolaborasi antara pemerintah pusat, BRIN, dan pemerintah daerah.
Sekretaris Ditjen PKH Kementan, Nuryani Zainuddin, menilai riset yang dikembangkan harus memiliki keterkaitan kuat dengan kebutuhan pembangunan dan mampu memberikan manfaat nyata bagi pengembangan sistem peternakan. Menurutnya, agenda riset yang berkaitan dengan pangan dapat menjadi momentum untuk memperkuat posisi peternakan sebagai bagian penting dari sistem pertanian secara keseluruhan.
“Sebetulnya momentumnya sangat bagus dengan adanya kegiatan yang mengarah ke pangan. Lokomotif awal farming system itu sebetulnya dimulai dari peternakan,” ujar Nuryani.
Gagasan tersebut kemudian mengarah pada pembahasan mengenai pengembangan kawasan peternakan yang terintegrasi sekaligus memperluas sentra produksi ke berbagai wilayah. Salah satu yang menjadi contoh adalah rencana pengembangan pilot project kluster sapi perah di Padang Mengatas, Sumatera Barat, yang dirancang dari sektor hulu hingga hilir untuk membantu memenuhi kebutuhan susu lokal. Pengembangan tersebut juga dikaitkan dengan upaya memperluas sentra sapi perah di luar Pulau Jawa, mengingat sekitar 95 persen populasi sapi perah disebut masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Di sisi lain, perkembangan teknologi peternakan membutuhkan dukungan riset sekaligus kerangka regulasi yang memadai. Kepala Pusat Riset Peternakan BRIN, Santoso, menyoroti pentingnya aspek keamanan hayati dalam menghadapi perkembangan teknologi seperti gene editing dan rekayasa genetika. Menurutnya, kemajuan teknologi juga akan mengubah pendekatan dalam proses sertifikasi dan penetapan galur ternak.
“Ke depan, sertifikasi dan penetapan galur ternak tidak hanya melihat performa fisik, tetapi berbasis biologi molekuler dan skrining genotipe, yang disinergikan dengan riset BRIN,” ujar Santoso.
Penguatan aspek genetika tersebut turut dikaitkan dengan rencana transformasi Balai Embrio Ternak (BET) Cipelang. Dalam pembahasan, nomenklatur BET Cipelang direncanakan berubah menjadi Balai Embrio dan Genetika Ternak. Pengembangan kelembagaan ini diarahkan untuk memperkuat penerapan teknologi genetika sekaligus mendukung proses sertifikasi dan penetapan galur ternak yang semakin berbasis pengujian molekuler.
Sementara itu, Kabupaten Brebes memiliki potensi sumber daya genetik lokal yang turut menjadi bagian penting dalam agenda kolaborasi riset tersebut. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Brebes, Ismu Subroto, mengatakan pemerintah daerah terus mendorong proses penetapan galur ternak lokal agar potensi genetik yang dimiliki daerah dapat dikembangkan dan mendapatkan pengakuan.
“Kabupaten Brebes itu ingin mengecek progres penetapan Domba Tanjung, yang kedua, nanti Brebes juga akan mengajukan penetapan Domba Sakub,” kata Ismu.
Selain Domba Tanjung dan Domba Sakub, kerja sama dengan BRIN juga akan diarahkan untuk mendukung pengajuan penetapan sumber daya genetik lainnya, termasuk sapi keturunan dari Bengkulu dan Ayam Cemani. Dengan demikian, riset tidak hanya diarahkan untuk menghasilkan kajian, tetapi juga mendukung pengelolaan dan pengembangan potensi genetik ternak yang dimiliki daerah.
Rangkaian pembahasan tersebut selanjutnya akan diperkuat melalui forum group discussion (FGD) yang direncanakan berlangsung di Jakarta pada Kamis 8 Oktober 2026. Forum tersebut diharapkan menjadi ruang untuk memperdalam substansi usulan riset sekaligus menyelaraskan langkah antara Kementan, BRIN, dan Pemerintah Kabupaten Brebes.
Melalui kolaborasi lintas lembaga tersebut, riset peternakan diharapkan dapat menghasilkan inovasi yang aplikatif dan memberi manfaat bagi pembangunan pangan di daerah. Penyelarasan antara pengembangan kawasan, teknologi, sumber daya genetik, serta penguatan rantai nilai protein hewani menjadi bagian penting agar hasil riset dapat diterapkan secara berkelanjutan dan mendukung pengembangan peternakan dari hulu hingga hilir.