
Jakarta – Dinamika harga telur ayam ras yang terjadi di sejumlah daerah saat ini terus menjadi perhatian pemerintah bersama pelaku usaha perunggasan nasional. Berbagai langkah koordinasi dan penguatan pengawasan terus dilakukan guna menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasar agar tetap seimbang, baik bagi peternak maupun masyarakat sebagai konsumen.
Harga telur ayam ras di sejumlah daerah yang mengalami penurunan di bawah Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) sebesar Rp26.500 per kilogram di tingkat produsen memunculkan kekhawatiran di kalangan peternak karena harga jual dinilai belum mampu menutup kenaikan biaya produksi, terutama pakan.
Situasi tersebut terjadi di tengah tingginya produksi telur nasional. Berdasarkan data neraca ketersediaan telur ayam ras April 2026, produksi nasional mencapai 618.898 ton, sementara kebutuhan masyarakat berada di angka 522.368 ton. Dengan kondisi tersebut, neraca surplus dan stok kumulatif tercatat mencapai 363.750 ton atau sekitar 69,63 persen dari kebutuhan.
Ketua Presidium Pinsar Petelur Nasional (PPN), Yudianto Yosgiarso, mengatakan Indonesia saat ini telah mencapai swasembada telur ayam bahkan mengalami surplus produksi. Menurutnya, sejak Oktober 2025 kondisi surplus masih dapat tertopang oleh tingginya kebutuhan menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru, program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta persiapan Idulfitri.
“Untuk telur ayam, kita sudah mencapai swasembada bahkan surplus produksi. Mulai Oktober 2025 kondisi surplus masih terbantu oleh persiapan HBKN Natal dan Tahun Baru, penyerapan MBG yang masih berjalan lancar, hingga persiapan Idulfitri,” ujar Yudianto, Kamis (7/5/2026).
Namun, menurut Yudianto, kondisi mulai berubah saat memasuki masa libur Lebaran. Libur panjang menyebabkan aktivitas perdagangan menurun, sementara program MBG selama masa libur juga tidak menggunakan telur ayam seperti biasanya.
Ia menyebutkan harga telur di tingkat peternak atau on farm saat ini berada di kisaran Rp21.000 hingga Rp22.000 per kilogram. Pada saat yang sama, biaya produksi justru terus meningkat akibat kenaikan harga pakan dan kebutuhan produksi lainnya.
“Pakan jadi dan konsentrat pada April lalu sudah naik dua kali masing-masing Rp200 per kilogram. Harga jagung juga naik menjadi Rp6.800 per kilogram. Belum lagi vaksin dan obat-obatan di awal Mei naik sekitar 10 persen. Kondisi ini tentu membuat peternak merasa kurang nyaman,” kata Yudianto.
Menurutnya, hampir seluruh peternakan saat ini mengalami penumpukan stok telur antara dua hingga lima hari produksi akibat lemahnya penyerapan pasar. Karena itu, pihaknya berharap pemerintah dapat mempercepat realisasi penyaluran jagung SPHP agar dapat membantu menurunkan biaya produksi peternak.
“Kami berharap sosialisasi pengambilan jagung SPHP oleh Bapanas dan Bulog segera direalisasikan. Harga jagung di luar saat ini sekitar Rp6.800 per kilogram, sedangkan jagung SPHP maksimal Rp5.500. Selisih harga ini sangat berpengaruh terhadap biaya pakan dan HPP telur di tingkat peternak,” ujarnya.
Sebelumnya, Ketua Pinsar Petelur Nasional (PPN) Wilayah Lampung, Jenny Soelistiani, juga mengungkapkan hal yang sama terkait kenaikan harga pakan yang sangat berpengaruh terhadap biaya produksi peternak. “Harga pakan sudah naik dua kali, sedangkan harga telur belum terangkat. Peternak tentu mulai resah karena biaya produksi terus meningkat,” tambahnya.
Para peternak juga berharap adanya dukungan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk membantu penyerapan telur nasional. Namun di lapangan, peternak menerima informasi bahwa frekuensi penggunaan telur dalam program tersebut justru mengalami pengurangan.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah memastikan ketersediaan telur tetap aman serta harga pangan hewani terus dijaga agar tetap stabil. Pemerintah juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna menjaga keseimbangan pasokan sekaligus melindungi keberlangsungan usaha peternak rakyat.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan harga di lapangan dan merespons berbagai masukan dari peternak maupun pelaku usaha perunggasan nasional.
“Fakta ini menjadi perhatian pemerintah agar keseimbangan antara harga di tingkat peternak dan konsumen tetap terjaga. Pemerintah juga terus mendorong penyerapan telur di pasar. Kami terus memantau agar peternak tidak dirugikan, sekaligus masyarakat tetap mendapatkan harga yang wajar,” kata Agung.
Pemerintah berharap kondisi pasar telur dapat kembali membaik seiring meningkatnya aktivitas ekonomi masyarakat dan penguatan penyerapan di berbagai sektor. Peternak juga diimbau tetap menjaga produksi secara terukur dan tidak panik menghadapi fluktuasi pasar, karena kebutuhan telur nasional pada dasarnya tetap tinggi dan menjadi salah satu sumber protein utama masyarakat Indonesia.